UNGKAPFAKTA.ID
BERITA DUKA Wafat: Senin, 19 Oktober 2026, pukul 02.47 WIB – Tempat: RS PELNI, Petamburan, Jakarta Pusat
– Rumah Duka: RS Ukrida, Jakarta Barat – Konfirmasi: Disampaikan oleh rekan Advokat, Martin Lukas Simanjuntak
Siapa Beliau? 1. Awal Hidup yang Penuh Perjuangan
Lahir di Siborongborong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, dari keluarga sederhana. Lulus SMAN 1 Siborongborong (1992), lalu merantau ke Jakarta. Pernah hidup di bawah kolong jembatan.
Bekerja sebagai staf restoran, lalu tenaga penjualan, sebelum akhirnya lulus dari Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI) pada tahun 2000. Kemudian bergabung di Firma Hukum Viktoria.
2. Kisah Paling Pilu — Hati yang Tak Lagi Bisa Takut
Tahun 2016, saat sedang membela Rachmawati Soekarnoputri, kabar memilukan datang: Istri dan anaknya dibakar hidup-hidup di dalam mobil, hanya 400 meter dari rumah, saat baru berangkat pagi.
Beliau pernah berkata:
“Masih ingat waktu itu kan istri saya dibakar di mobil waktu saya bela putri Soekarno tahun 2016! Waktu saya bela putri Soekarno dulu, saya lagi bicara seperti ini di hadapan rapat itu, istri saya baru jalan 400 meter dari rumah, dibakar hidup-hidup istri saya sama anak saya. Jadi saya sudah nggak ada takut.”
Sejak itu lahir kalimat legendaris yang dipegangnya hingga akhir hayat:
“BANDIT YANG HARUS TAKUT SAMA KITA. JANGAN KITA YANG TAKUT SAMA BANDIT.”
Tahun 2011, saat membongkar korupsi Wisma Atlet yang berujung pada kasus e-KTP, ada yang menyiapkan uang Rp 11 Miliar untuk membunuhnya. Beliau selamat dan tidak pernah mundur selangkah pun.
3. Jejak Perjuangan Hukum:
Membongkar korupsi Wisma Atlet Hambalang & proyek e-KTP (menyeret Angelina Sondakh dan pihak lain) – Kuasa hukum Muhammad Kece – Membela Rachmawati Soekarnoputri (2016) – Mendirikan Partai PDRIS, menjabat sebagai Ketua Umum sejak 7 Juli 2020
4. Puncak Pengabdian Kasus Brigadir:
Juli–Agustus 2022, namanya menjadi kebanggaan bangsa. Ditunjuk oleh Bapak Samuel Hutabarat sebagai kuasa hukum keluarga Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J).
Di saat semua orang percaya narasi “tembak-menembak” dan takut melawan pejabat tinggi, beliau berani berdiri sendirian dan berseru:
“INI BUKAN TEMBAK-MENEMBAK. INI PEMBUNUHAN BERENCANA!”
Beliau yang mengungkap kejanggalan luka-luka, mendesak autopsi ulang, melawan narasi palsu, hingga akhirnya kebenaran terungkap sepenuhnya. Ferdy Sambo dan kelompoknya pun dijerat hukum.
Seorang yang pernah kehilangan istri dan anak tercinta karena membela kebenaran, tetap berdiri teguh membela kebenaran hingga akhir tugasnya.
5. Pulang ke Rumah Terakhir:
Setelah berjuang melawan penyakit dan rutin menjalani cuci darah selama dua tahun, pejuang kebenaran ini mengembuskan napas terakhir pada Senin dini hari, 19 Oktober 2026.
PENUTUP
“Orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dikorbankan, adalah orang yang paling berani membela kebenaran.”
Selamat jalan, Sang Pejuang Hukum. Terima kasih telah mengingatkan kami: kebenaran harus tetap dibela, sekalipun berat pengorbanannya.
Kamaruddin Simanjuntak, SH Pahlawan Keadilan di Hati Rakyat.
Semoga Allah SWT menempatkan beliau di tempat yang paling mulia di sisi-Nya, bersama orang-orang yang beriman dan berjuang di jalan kebaikan. Aamiin.
Penulis: Arfendy/Red
Editor: Pimpinan Redaksi






Tinggalkan Balasan