Tradisi Turun Sungai Tengguli 2026, Bukti Budaya Lokal Tetap Dicintai Masyarakat
Empat hari kemeriahan Tradisi Turun Sungai Desa Tengguli akhirnya resmi berakhir pada Minggu (21/6/2026). Namun lebih dari sekadar sebuah perayaan tahunan, kegiatan ini kembali membuktikan bahwa budaya lokal masih memiliki tempat yang kuat di hati masyarakat Kabupaten Sambas.
Sejak dimulai pada Kamis lalu, berbagai rangkaian kegiatan berhasil menyedot perhatian masyarakat dari berbagai daerah. Sungai yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat pesisir seolah kembali menjadi pusat pertemuan, kebersamaan, dan kegembiraan yang menyatukan berbagai kalangan tanpa memandang usia maupun latar belakang.
Keberhasilan pelaksanaan Tradisi Turun Sungai tahun ini juga menunjukkan tingginya semangat gotong royong masyarakat Desa Tengguli. Mulai dari pemerintah desa, panitia, tokoh masyarakat, pemuda hingga para relawan bahu-membahu memastikan seluruh rangkaian acara berjalan aman, tertib, dan sukses hingga penutupan.
Puncak kemeriahan melalui Sparing Sampan Bidar Putra Race Desa Tengguli yang diikuti 98 tim dayung dari berbagai wilayah Kabupaten Sambas menjadi bukti bahwa olahraga dan budaya sungai masih hidup dan terus berkembang. Ribuan penonton yang memadati lokasi perlombaan semakin memperlihatkan besarnya kecintaan masyarakat terhadap tradisi warisan leluhur tersebut.
Yang paling penting, Tradisi Turun Sungai bukan hanya tentang hiburan atau perlombaan. Di dalamnya terkandung nilai persaudaraan, kebersamaan, pelestarian budaya, serta penghormatan terhadap sejarah dan identitas masyarakat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Tradisi Turun Sungai Desa Tengguli 2026 mungkin telah berakhir, namun semangatnya diharapkan terus hidup. Sebab di tengah derasnya arus modernisasi tradisi seperti ini lah yang menjadi pengingat bahwa budaya lokal bukan sekedar kenangan masa lalu, melainkan aset berharga yang harus dijaga, dirawat dan diwariskan kepada generasi mendatang.








Tinggalkan Balasan