Warga Merasa Dirugikan: Beli Paralon 375 Ribu: Proyek Irigasi Rawa Tebas Tidak Izin Kepemilikan Lahan, Tanam Tumbuh Dirusak Sawah dan Kebun Tergenang Air

SAMBAS.UNGKAPFAKTA.ID

Proyek pembangunan Peningkatan Daerah Irigasi Rawa Tebas Komplek – Kebun Jeruk yang bersumber dari APBN tahun 2026 dengan nilai Rp :22,7 Miliar dikerjakan oleh PT. ANUGRAH BAYUARYA PERKASA sebagai pelaksana proyek diduga warga merasa dirugikan membeli paralon Rp: 375 dan 200 ribu Tanam Tumbuh Dirusak. Sabtu (17/10/2026)

Hal tersebut bukan tidak mendasar, pasalnya beberapa warga yang lahan kebun dirusak dan sawah digenangi air

Keluhan Dua warga Membeli Paralon Rp :375 dan 200 Ribu

Pemilik kebun yang enggan disebutkan namanya, ia menyampaikan keluhannya, mengaku, membeli paralon Rp: 375 untuk pembuangan menyalurkan  genangan air di sawah kebunnya.

“Jujur, saya merasa dirugikan sehingga mengeluarkan uang pribadi, ” Saya berharap agar uang tersebut bisa diganti oleh pihak proyek,”ujarnya dengan nada mengeluh dan kesal.

Lanjutnya, saya sudah empat hari bekerja menggali tanah timbunan untuk masang paralon, agar pembuangan genangan air di sawah dan kebun bisa disalurkan ke irigasi.

“Pernah saya meminta kepada pihak proyek untuk digali kembali tanah timbunan, tapi hanya begini. Kelapa tiga batang di tumbang, pohon asam, dan pohon nangka juga di tumbang tanpa minta izin sama pemiliknya,”ungkapnya

Dirinya Mengaku Sosialisasi Tidak Diundang

“Jujur Mengenai sosialisasi proyek irigasi, saya tidak pernah diundang, apalagi diberitahukan pak oleh pihak desa,” Tutur pemilik lahah kepada awak media.

Hal yang sama disampaikan oleh rekannya yang berdampingan dengan kebunya, juga mengaku;

“Iya pak, saya juga membeli paralon Rp:200 ribu untuk pembuangan  menyalurkan  genangan air di kebunnya,”ungkapnya.

Begitu juga seorang ibu warga Desa Tebas Sungai yang tidak disebutkan namanya yang mengalami hal yang sama padi yang baru di tanam tergenang air. Ia menyebutkan, itu sawah padi saya pak, lihatlah udah digenangi air, padahal baru seminggu saya tanam pak.

“Kalau seperti itu, padi saya akan mati karena masih kecil belum besar. Karena pembuangan saluran air tidak ada atau sumbat sehingga air di irigasi meluap seperti gak mengalir,”tuturnya dengan nada mengeluh.

Dino Sekertaris Lembaga Investigasi Negara (LIN) Kabupaten Sambas menyikapi terkait genangan air dilahan kebun untuk pembuangan genangan air sehingga membeli paralon 375 dan 200 ribu.

Ia mengatakan, terimakasih tekan rekan media ungkap fakta id, dari hasil investigasi hari ini Sabtu 17 Oktober 2026 ada beberapa kita temukan keluhan dari masyarakat setempat, warga yang berdampak dengan curah hujan cukup tinggi.

“Sehingga mengakibatkan lahan perkebunan serta sawah mereka tergenang air mengakibatkan padi mereka mati, karena tenggelam genangan air dan mengakibatkan beberapa kerusakan,”

” Jadi salah satu contoh, air sudah menyebrangi jalan, karena dengan kelupaan air dengan tidak adanya pembuangan air, jadi dari lahan masyarakat atau warga setempat jadi sangat-sangat merugikan,”tegas Dino.

Ia juga menyebutkan, jadi, dari kami LIN Kabupaten Sambas Lembaga Investigasi Negara, menyikapi atau menanggapi dengan adanya diduga kekurangan pembuatan suran pembuangan air, dari lahan warga yang terdampak.

“Yang mengakibatkan keluhan serta kekesalan warga. Dan ini dengan curahnya hujan cukup tinggi kemungkinan akan terjadi kembali luapan air yang sangat-sangat tinggi yang akan mengakibatkan tanam tumbuh masyarakat atau warga setempat akan terdampak tenggelam, khusunya padi atau buah akan rontok dan menguning,” Jelasnya.

Jadi harapan kami dari LIN Kabupaten Sambas kepada pihak-pihak terkait, untuk melakukan klarifikasi atau pengecekan kembali dilapangan, mengingat dengan adanya curah hujan yang sangat tinggi.

“Saluran air lambat untuk keluar ataupun sumbat, karena kita temukan dilapangan adanya saluran air dibuat yang dilakukan paralon ukuran 5 in yang tidak sesuai standar, ” Artinya, paralon yang begitu tipis” Jadi mengakibatkan tekan air yang kuat pecah, dan sumbat,” Ungkap Dino.

Lanjutnya lagi, dan kita sempat ketemu ada salah satu warga yang melakukan perbaikan saluran air, dengan melakukan penggantian pipa paralon dengan biaya sendiri.

“Membeli paralon tertinggi dengan harga Rp:375 ribu rupiah, itu hasil inisiatif warga setempat yang terdampak agar tanam tumbuh mereka itu tidak terendam banjir, karena mereka sudah beberapa hari mengerjakan empat hari pekerjaan itu barulah ada solusi dari mereka sendiri, dan memperdayakan, mengeluarkan biaya sendiri untuk melakukan penyaluran air yang terdampak,” Tutupnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *